Selasa, 03 April 2012

SAYAPUN TAK SETUJU, TAPI ITULAH KONSEKWENSI

Belakangan ini Negri ini begitu heboh dengan isu kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak).. Sebagian besar kalangan jelas menentang hal ini. Tentu saja, begitu BBM naik, maka semua bahan kebutuhan, tarif transportasi umum, serta biaya pendidikan akan ikut-ikutan naik. Jelas, tak ada yang setuju akan hal itu bukan? Ketika harga BBM masih rendah saja sudah jutaan rakyat Negeri ini terlantar dan miskin, apalagi kalau harga BBM naik? tak tega aku membayangkan. Mungkin julah angka kemiskinan Negri ini akan terus melaju bak roket.
Tak heran beragam reaksi penolakan dari berbagai kalangan muncul dimana-mana. Mulai dari elemen mahasiswa, buruh, dan lainnya. Banyak buruh melakukan aksi, mereka menyuarakan aspirasi mereka. Mereka mengadu kepada wakil mereka yang intinya "hidup kami sudah susah, tolong jangan buat hidup kami tambah susah". Sungguh isronis sekali. Sedangkan para mahasiswa melakukan aksi di latar belakangi oleh beberapa faktor, selain mereka merasa bahwa keputusan itu juga akan menyensarakan mereka sendiri, sebagai agen of change jiwa mereka terpanggil untuk membela rakyat miskin seluruh Indonesia. Sebagai mahasiswa pula, aku juga sependapat dengan mereka, tetapi sudah benarkah cara mereka? who knows?
Dari berita-berita yang aku lihat, berbagai aksi yang dijalankan paca changers ini sungguh "menarik". Pengrusakan, pembakaran dan kerusuhan  mereka lakukan dimana-mana, sungguh kreatif sekali. Tetapi, terlepas dari semua yang dilakukan para mahasiswa ini tetaplah rakyat kecil yang jadi korban, Bagaimana tidak, akibat kerusuhan yang mereka lakukan, orang-orang malah resah untuk melakukan aktifitas, jalan-jalan utama macet bahkan di tutup sehingga para sopir angkut, sopir b us bahkan yang lain tak bisa mencari naafkah. Kalau sudah begitu apakah yang mereka lakukan itu hanya menambah kesusahan yang dialami rakyat? Sadarlah Boy, kita sudah dewasa. Membela itu perlu tapi bukan begini caranya... Dewasalah sedikit,
Menurut pemerintah, kenaikan BBM tak mungkin bisa dihindari lagi. Akupun juga sependapat, ya mau gimana lagi itu adalah sebuah konsekwensi kok!. Menurut Bapak wakil presiden kita Boediono mengnalogikan hal ini dengan perumpamaan yang bisa masuk di akal. Beliau menjelaskan ibarat BBM bersubsidi adalah sebuah bejana yang memiliki kran. Kran ini ibarat penghubung ke rakyat yang membutuhkan. Tetapi Boediono menggambarkan kran itu dengan banyak lubang. Lubang inilah analogi hilangnya BBM selama proses pendistribusian ke rakyat, misalkan di selundup, hilang di laut, hingga jatuhnya BBM itu ke tangan yang salah. Sehingga banyak sekali BBM bersubsidi yang jatuh ke tangan yang salah, sehingga menurut beliau langkah yang benar yang harus dilakukan adalah mengurangi insentif.
Tetapi sebenarnya masalah yang paling besar yang mengakibatkan keadaan ini terjadi adalah terlalu konsumtif semua manusia ddi dunia ini akan BBM. Jikalau semua manusia, khusunya manusia yang hidup di negara berkembang lebih bijak sedikit dalam menggunakan BBM, maka minyak takkan cepat naik dan harga minyak dunia tak cepat melambung tinggi. Andai saja kita lebih suka menaiki sepeda pancal ketika berangkat ke sekolah/kampus maka kebutuhan BBM-pun tak seheboh ini, andai kita lebih suka kendaraan umum maka kemacetan dan polusi tak semenyeramkan sekarang.
Bagiku, tak perlu menyalahkan siapapun akan terjadinya hal ini. Bagiku, kalaupun BBM naik, itu bukan salah pemerintah tapi itu adalah konsekwensi bagi kita karena telah memeras minyak dunia habis-habisan. Mulai dari sekarang, marilah kita lebih menyayangi bumi kita ini, kasihan dia... sekarang dia sedang sekarat karena kita sudah tak pernah memperdulikannya, kita hanya memperdulikan hidup kita saja, kita lupa kalau kita itu hidup di bumi. Sekarang saatnya berterimakasih kepadanya dengan menggunakan semua sumber yang dia punya termasuk BBM dengan lebih bijak dan lebih hemat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar